Rabu, 05 September 2007

CROSS-SECTIONAL

CROSS-SECTIONAL STUDY (STUDI POTONG LINTANG)
  • Studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit atau karakteristik terkait kesehatan lainnya secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada satu saat. Karakter : status paparan dan penyakit diukur pada saat yang sama.
  • Data yang dihasilkan adalah data prevalensi, maka disebut juga survei prevalensi. Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei. SKRT (Survei Kesehatan Rumah tangga) dan Surveilans merupakan studi potong lintang.
JENIS STUDI POTONG LINTANG  
  1. Potong lintang Deskriptif : meneliti prevalensi penyakit , paparan atau keduanya, pada suatu populasi tertentu.
  2. Studi potong lintang analitik : mengumpulkan data prevalensi paparan dan penyakit untuk tujuan perbandingan perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok terpapar dan kelompok tak terpapar, dalam rangka meneliti hubungan antara paparan dan penyakit
KEKUATAN :
  • Mudah dan murah
  • Desain yang efisien untuk mendeskripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan distribusi sejumlah karakteristik populasi.
  • Bermanfaat untuk memformulasikan hipotesis hubungan kausal yang akan diuji dalam studi analitik lainnya, seperti kasus kontrol dan kohor
  • Tidak memaksa subjek mengalami faktor yang merugikan kesehatan (faktor resiko)
KELEMAHAN :
  • Validitas penilai hubungan kausal menuntut sekuensi waktu yang jelas antara paparan dan penyakit (yaitu paparan harus mendahului penyakit), karakteristik ini sulit dipenuhi dalam studi potong lintang, sehingga penggunaan desain studi ini terbatas untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit.
  • Penggunaan data prevalensi, padahal dalam penelitian faktor resiko dan etiologi penyakit menuntut penggunaan data insidensi penyakit.

Selasa, 07 Agustus 2007

EPIDEMIOLOGI ANALITIK

EPIDEMIOLOGI ANALITIK

TUJUAN
Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan :
  1. Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit.
  2. Memprediksikan kejadian penyakit
  3. Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian penyakit.
PEMBAGIAN BERDASARKAN PERAN  
Berdasarkan peran epidemiologi analalitik dibagi 2 :
  • Studi Observasional : Studi Kasus Control (case control), studi potong lintang (cross sectional) dan studi Kohor.
  • Studi Eksperimental : Eksperimen dengan kontrol random (Randomized Controlled Trial /RCT) dan Eksperimen Semu (kuasi).

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF

DEFINISI 
Epidemiologi desriptif adalah studi yang ditujukan untuk menentukan jumlah atau frekuensi dan distribusi penyakit di suatu daerah berdasarkan variabel orang, tempat dan waktu.
Epidemiologi deskriptif umumnya dilaksanakan jika tersedia sedikit informasi yang diketahui mengenai kejadian, riwayat alamiah dan faktor yang berhubungan dengan penyakit.

Upaya mencari frekuensi distribusi penyakit berdasarkan epidemiologi deskriptif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan :
  • Siapa yang terkena?
  • Bilamana hal tersebut terjadi?
  • Bagaimana terjadinya?
  • Dimana kejadian tersebut?
  • Berapa jumlah orang yang terkena?
  • Bagaimana penyebarannya?
  • Bagaimana ciri-ciri orang yang terkena?

TUJUAN
Tujuan epidemiologi deskriptif adalah :
  1. Untuk menggambarkan distribusi keadaan masalah kesehatan sehingga dapat diduga kelompok mana di masyarakat yang paling banyak terserang.
  2. Untuk memperkirakan besarnya masalah kesehatan pada berbagai kelompok.
  3. Untuk mengidentifikasi dugaan adanya faktor yang mungkin berhubungan terhadap masalah kesehatan (menjadi dasar suatu formulasi hipotesis).

KATEGORI
Berdasarkan unit pengamatan/analisis epidemiologi deskriptif dibagi 2 kategori :
  • Populasi : Studi Korelasi Populasi, Rangkaian Berkala (time series).
  • Individu : Laporan Kasus (case report), Rangkaian Kasus (case series), Studi Potong Lintang (Cross-sectional).

JENIS PENELITIAN

STUDI KORELASI POPULASI
Studi epidemiologi dengan populasi sebagai unit analisis yang bertujuan mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dan faktor-faktor penelitian. Faktor-faktor yang digunakan : umur, bulan, penggunaan pelayanan kesehatan, konsumsi jenis makanan, obat-obatan, sigaret dll.
Unit observasi/unit analisis adalah kelompok individu, komunitas, atau populasi yang lebih besar.

Prinsip-prinsip studi Korelasi populasi :
  • 2 VARIABEL (x : Paparan, Y : penyakit) diukur pada tiap-tiap unit observasi
  • Kemudian sejumlah n pasangan (X,Y) dipertemukan untuk dicari hubungannya.
  • Kekuatan hubungan linear antara X dan Y dihitung dalam koefisien korelatif r, mengukur berapa besar perubahan tiap unit frekuensi penyakit diikuti perubahan setiap unit paparan
  • Contoh : Studi korelasi populasi untuk mempelajari hubungan korelatif antara kematian karena kanker paru pada pria tahun 1950 dan konsumsi sigaret pada tahun 1930 di berbagai negara.

a) Kekuatan
  • Dapat menggunakan data insidensi, prevalensi dan mortalitas
  • Digunakan pada penyelidikan awal hubungan paparan dan penyakit
  • Mudah dilakukan dan murah dengan memanfaatkan informasi yang tersedia
  • Departemen pemerintah dan Biro Pusat statistik secara teratur mengumpulkan data demografi yang dapat dikolerasikan dengan data morbiditas, mortalitas dan penggunaan sumber daya kesehatan yang dikumpulkan Departmen Kesehatan.

b) Kelemahan
  • Tidak mampu mengatasi kesenjangan status paparan dan penyakit pada tingkat populasi dan individu. Kita tidak mengetahui apakah seseorang yang terpapar juga berpenyakit.
  • Tidak mampu mengontrol faktor perancu
  • Contoh : terlepas dari korelasi positif yang kuat antara merokok dengan kematian Ca paru, dapat diduga bahwa perkiraan tersebut lebih besar dari sesungguhnya, karena adanya faktor lain : polusi udara, asbes, radium, hidrokarbon, radiasi dll.

RANGKAIAN BERKALA
Studi epidemiologi yang bertujuan mendeskripsikan dan mempelajari frekuensi penyakit atau status kesehatan satu/beberapa populasi berdasarkan serangkaian pengamatan pada beberapa sekuens waktu. Ciri rangkaian berkala adalah menghubungkan variasi frekuensi penyakit dari waktu ke waktu.

Manfaat studi rangkaian berkala adalah :
  • Meramalkan kejadian penyakit berikutnya berdasarkan pengalaman lampau
  • Mengevaluasi efektifitas intervensi kesehatan masyarakat
Rangkaian berkala merupakan salah satu rancangan eksperimen semu untuk mengevaluasi efektivitas intervensi. Evaluasi dilakukan dengan cara : mempelajari perubahan gerakan kurva frekuensi penyakit pada populasi selama beberapa interval waktu, baik sebelum maupun sesudah implementasi intervensi pada populasi.
Contoh : rangkaian berkala untuk mengevaluasi efektifitas peraturan senjata api di Detroit.

Komponen pembentuk rangkaian berkala yang dapat merancukan pengaruh intervensi sebenarnya
  • Kecenderungan sekuler
  • Variasi Musim
  • Variasi Siklik
  • Variasi Acak (Random)

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

RIWAYAT ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT

Jika ditinjau proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit dan terhentinya penyakit tersebut dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history of disease) terutama untuk penyakit infeksi.
Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural.

MANFAAT
Manfaat riwayat mempelajari alamiah perjalanan penyakit :
  1. Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit, misal dalam KLB (Kejadian Luar Biasa)
  2. Untuk Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
  3. Untuk terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan.

TAHAPAN
Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :
a.  Tahap Pre-Patogenesa
  • Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.

b.  Tahap Patogenesa
    1)   Tahap Inkubasi
  • Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti influenza, penyakit kolera masa inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 - 14 hari, tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan sebagainya.
  • Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu saat penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang membatasi antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan horison klinik.

  2)  Tahap Penyakit Dini
  • Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat. Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
  • Tahap penyakit dini ini sering menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat, terutama jika tingkat pendidikan penduduk rendah, karena tubuh masih kuat mereka tidak datang berobat, yang akan mendatangkan masalah lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit yang di derita, sehingga saat datang berobat sering talah terlambat.

   3)  Tahap Penyakit Lanjut
  • Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.

     4)  Tahap Akhir Penyakit
  • Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu : 
  1. Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita penyakit.
  2. Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh. Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu. Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
  3. Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh berkurang, penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena dapat menjadi sumber penularan
  4. Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu tetap berada dalam keadaan sakit.
  5. Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh, tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.

Jumat, 03 Agustus 2007

INVESTIGASI WABAH

WABAH

Wabah : adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No 4. Tahun 1984).
Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (pandemi).

OUTBREAK
Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain.

EPIDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat.

PANDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup wilayah yang luas

ENDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu.

KEJADIAN LUAR BIASA
Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satu kategori status wabah dalam peraturan yang berlaku di Indonesia. tatus Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004.

Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang KLB mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/9. Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
  1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
  2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
  3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
  4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI WABAH
1.  Konfimasi / menegakkan diagnosa
  • Definisi kasus
  • Klasifikasi kasus dan tanda klinik
  • Pemeriksaan laboratorium
2.  Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan
  • Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB
  • Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya
3.  Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang
  • Kapan mulai sakit (waktu)
  • Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)
  • Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll)
4.  Rumuskan suatu hipotesa sementara
  • Hipotesa kemungkinan : penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease)
  • Hipotesa : untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut
5.  Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail Untuk menguji hipotesis :
  • Tentukan : data yang masih diperlukan sumber informasi
  • Kembangkan dan buatkan check list.
  • Lakukan survey dengan sampel yang cukup
6.  Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan
  • Lakukan wawancara dengan :
         a.  Penderita-penderita yang sudah diketahui (kasus)
         b. Orang yang mempunyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat              terjadinya penyakit, tetapi mereka tidak sakit (control)
  • Kumpulkan data kependudukan dan lingkungannya
  • Selidiki sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut berperan
  • Ambil specimen dan sampel pemeriksa di laboratorium
7.  Buatlah analisa dan interpretasi data
  • Buatlah ringkasan hasil penyelidikan lapangan
  • Tabulasi, analisis, dan interpretasi data/informasi
  • Buatlah kurva epidemik, menghitung rate, buatlah tabel dan grafik-grafik yang diperlukan
  • Terapkan test statistik
  • Interpretasi data secara keseluruhan
8.Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan
  • Lakukan uji hipotesis
  • Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit :
         a. Sesuai dengan sifat penyebab penyakit
         b. Sumber infeksi
         c. Cara penularan
         d. Faktor lain yang berperan
9.  Lakukan tindakan penanggulangan
  • Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif.
  • Lakukan surveilence terhadap penyakit dan faktor lain yang berhubungan.
  • Tentukan cara pencegahan dimasa akan datang
10.  Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut.
  • Pendahuluan
  • Latar Belakang
  • Uraian tentang penelitian yang dilakukan
  • Hasil penelitian
  • Analisis data dan kesimpulan
  • Tindakan penanggulangan
  • Dampak-dampak penting
  • Saran rekomendasi

EPIDEMIOLOGI PTM

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

A. PENDAHULUAN

1. Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi :
  • Akut
  • Kronis
2.  Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi :
  • Menular
  • Tidak Menular
3.  Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan      lingkungan sekitarnya.
  • Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan
  • Untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan.
4.  Penyakit tidak menular dapat bersifat akut dapat juga bersifat kronis.

5.  Pada Epidemiologi Penyakit tidak Menular terutama yang akan dibahas adalah penyakit-      penyakit yang bersifat kronis.

6.  Kepentingan :
  • Penyakit-penyakit tidak menular yang bersifat kronis sebagai penyebab kematian mulai menggeser kedudukan dari penyakit-penyakit infeksi

  • Penyakit tidak menular mulai meningkat bersama dengan life-span (pola hidup) pada masyarakat.
  • Life – span meningkat karena adanya perubahan-perubahan didalam : kondisi sosial ekonomi, kondisi hygiene sanitasi, meningkatnya ilmu pengetahuan, perubahan perilaku

PENYAKIT - PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS
1.  Penyakit yang termasuk di dalam penyebab utama kematian, yaitu :
  • Ischaemic Heart Disease
  • Cancer
  • Cerebrovasculer Disease
  • Chronic Obstructive Pulmonary Disease
  • Cirrhosis
  • Diabetes Melitus

2.  Penyakit yang termasuk dalam special – interest , banyak menyebabkan masalah kesehatan      tapi jarang frekuensinya (jumlahnya), yaitu :
  • Osteoporosis
  • Penyakit Ginjal kronis
  • Mental retardasi
  • Epilepsi
  • Lupus Erithematosus
  • Collitis ulcerative
3.   Penyakit yang termasuk akan menjadi perhatian yang akan datang, yaitu :
  • Defisiensi nutrisi
  • Akloholisme
  • Ketagihan obat
  • Penyakit-penyakit mental
  • Penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1.  Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular yang bersifat kronis belum      ditemukan secara keseluruhan,
  • Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-beda (merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia)
  • Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang berbeda-beda, misalnya merokok, dapat menimbulkan kanker paru, penyakit jantung koroner, kanker larynx.
  • Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang telah diketahui hanya dapat menerangkan sebagian kecil kejadian penyakit, tetapi etiologinya secara pasti belum diketahui
2.  Faktor-faktor resiko yang telah diketahui ada kaitannya dengan penyakit tidak menular      yang bersifat kronis antara lain :
  • Tembakau
  • Alkohol
  • Kolesterol
  • Hipertensi
  • Diet
  • Obesitas
  • Aktivitas
  • Stress
  • Pekerjaan
  • Lingkungan masyarakat sekitar
  • life style

KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR
Telah dijelaskan diatas bahwa penyakit tidak menular terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent)
1. Agent
a. Agent dapat berupa (non living agent) :
1) Kimiawi
2) Fisik
3) Mekanik
4) Psikis
b. Agent penyakit tidak menular sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang komplek (mulai molekul sampai zat-zat yang komplek ikatannya)
c. Suatu penjelasan tentang penyakit tidak menular tidak akan lengkap tanpa mengetahui spesifikasi dari agent tersebut
d. Suatu agent tidak menular dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda-beda (dinyatakan dalam skala pathogenitas)
Pathogenitas Agent : kemampuan / kapasitas agent penyakit untuk dapat menyebabkan sakit pada host

Pathogenitas agent :

e. Karakteristik lain dari agent tidak menular yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Kemampuan menginvasi / memasuki jaringan
2) Kemampuan merusak jaringan : Reversible dan irreversible
3) Kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitif

2. Reservoir
a. Dapat didefinisikan sebagai organisme hidup, benda mati (tanah, udara, air batu dll) dimana agent dapat hidup, berkembang biak dan tumbuh dengan baik.
b. Pada umumnya untuk penyakit tidak menular, reservoir dari agent adalah benda mati.
c. Pada penyakit tidak menular, orang yang terekspos/terpapar dengan agent tidak berpotensi sebagai sumber/reservoir tidak ditularkan.

3. Relasi Agent – Host
a. Fase Kontak
Adanya kontak antara agent dengan host, tergantung :
1) Lamanya kontak
2) Dosis
3) Patogenitas

b. Fase Akumulasi pada jaringan
Apabila terpapar dalam waktu lama dan terus-menerus

c. Fase Subklinis
Pada fase subklinis gejala/sympton dan tanda/sign belum muncul
Telah terjadi kerusakan pada jaringan, tergantung pada :
1) Jaringan yang terkena
2) Kerusakan yang diakibatkannya (ringan, sedang dan berat)
3) Sifat kerusakan (reversiblle dan irreversible/ kronis, mati dan cacat)

d. Fase Klinis
Agent penyakit telah menimbulkan reaksi pada host dengan menimbulkan manifestasi (gejala dan tanda).

4. Karakteristik penyakit tidak menular :
a. Tidak ditularkan
b. Etiologi sering tidak jelas
c. Agent penyebab : non living agent
d. Durasi penyakit panjang (kronis)
e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.

5. Rute dari keterpaparan
Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva, sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

A. PROSES TERJADINYA PENYAKIT
1. Proses terjadinya penyakit tergantung pada :
a. Karakterisitik dari agent
b. Karakteristik dari Host
c. Karakteristik dari environment

2. Pada penyakit Menular
Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
a. Agent (living organisme)
b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
c. Faktor predisposisi

3. Pada Penyakit Tidak Menular
Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
a. Agent (non living organisme)
b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
c. Faktor predisposisi

B. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
1. Definisi Riwayat Alamiah Penyakit :
a. Perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural
b. Adanya respon dari host terhadap stimulus dari interaksi agent dan environment

2. Tahapan :
a. Prepathogenesis
1) Faktor-faktor : hereditas, ekonomi, sosial, lingkungan fisik, psikis
stimulus penyakit
2) Stimulus dapat terjadi sebelum terjadinya interaksi antara stimulus dan manusia
3) Interaksi awal antara faktor –faktor host, agent dan environment disebut periode prepathogenesis

b. Pathogenesis
Mulai saat terjadinya terjadinya kelainan /gangguan pada tubuh manusia akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai terjadinya : kesembuhan, kematian, kronik dan cacat.

Pada pembahasan diatas tidak dijelaskan tentang kondisi orang sebelum terinfeksi, tetapi mempunyai resiko untuk terkena suatu penyakit. Untuk mengatasi kekurangan ini, perjalanan penyakit dikembangkan menjadi :

a. Fase Suseptibilitas (Tahap Peka)
1) Pada fase ini penyakit belum berkembang, tapi mempunyai faktor resiko atau predisposisi untuk terkena penyakit .
2) Faktor resiko tersebut dapat berupa
a) Genetika /etnik
b) Kondisi fisik, misalnya : kelelahan, kurang tidur dan kurang gizi.
c) Jenis kelamin
Wanita mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit Diabetes mellitus dan reumatoid artritis dibandingkan dengan pria dan sebaliknya pria mempunyai resiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan hipertensi dibandingkan wanita.
d) Umur
Bayi dan balita yang masih rentan terhadap perubahan lingkungan mempunyai resiko yang tinggi terkena penyakit infeksi sedangkan pada usia lanjut mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan kanker.
e) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti merokok mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan karsinoma paru-paru.
f) Sosial ekonomi
Tingkat sosial ekonomi yang rendah mempunyai resiko terkena penyakit infeksi sedangkan tingkat sosial yang tinggi mempunyai resiko terkena penyakit hipertensi, penyakit jantung koroner, gangguan kardiovaskuler dll, karena pada dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi mempunyai kecenderungan untuk terjadinya perubahan pola konsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi.
3) Untuk menimbulkan penyakit, faktor-faktor diatas dapat berdiri sendiri atau kombinasi beberapa faktor.
Contoh :
 Kadar kolesterol meningkat akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner.
 Kelelahan, alkoholik merupakan kondisi yang suseptibel untuk terjadinya Hepatitis,

b. Fase Subklinis
1) Disebut juga fase Presimptomatik
2) Pada tahap ini penyakit belum bermanifestasi dengan nyata (sign dan symptom masih negatif) , tapi telah terjadi perubahan-perubahan dalam jaringan tubuh (Struktur ataupun fungsi)
3) Kondisi seperti diatas dikatakan dalam kondisi “Below The Level of clinical horizon”
4) Fase ini mempunyai ciri-ciri :
 Perubahan akibat infeksi atau pemaparan oleh agen penyebab penyakit masih belum nampak
 Pada penyakit infeksi terjadi perkembangbiakan mikroorganisme patogen sedangkan pada penyakit non – infeksi merupakan periode terjadinya perubahan anatomi dan histologi, misalnya terjadinya ateroskelotik pada pembuluh darah koroner yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah.

c. Fase Klinis
1) Pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh telah cukup untuk memunculkan gejala-gejala (symptom) dan tanda-tanda (signs) penyakit.
2) Fase ini dibagi menjadi fase akut dan kronis.

d. Fase Konvalescen
1) Akhir dari fase klinis dapat berupa :
 Fase Konvalescen (Penyembuhan)
 Meninggal dunia
2) Fase konvalescen dapat berkembang menjadi :
 Sembuh total
 Sembuh dengan cacat (Disabilitas atau sekuele)
 Penyakit menjadi kronis
3) Disabilitas (Kecacatan/ketidakmampuan)
 Terjadi penurunan fungsi sebagian atau keseluruhan dari struktur/organ tubuh tertentu sehingga menurunkan fungsi aktivitas seseorang secara keseluruhan
 Dapat bersifat : sementara (akut), kronis dan menetap
4) Sekuele
 Lebih cenderung kepada adanya defect/cacat pada struktur jaringan sehingga menurunkan fungsi jaringan dan tidak sampai menggangu aktivitas seseorang.

C. USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT
Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit, maka tindakan preventif terhadap penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi :
1. Usaha Preventif Primer
2. Usaha Preventif Sekunder
3. Usaha Preventif Tertier

DBMS

Basis Data
Basis data (Database) adalah suatu tempat dari kumpulan data yang terintegrasi, diorganisasikan dan disimpan dengan scara yang memudahkan untuk pengambilan kembali. Tujuan utama dari basis data adalah meminimumkan pengulangan data dan mencapai indepedensi data (kemampuan untuk membuat perubahan dalam struktur data tanpa membuat perubahan pada program yang memproses data).
Pendefinisian basis data meliputi spesifikasi tipe data, struktur dan pembatasan (constraints) dari data yang harus disimpan dalam basis data. Penyusunan basis data meliputi proses memasukkan data dalam media penyimpanan data yang harus dikontrol oleh SMBD, sedangkan yang termasuk dalam manipulasi basis data seperti pembuatan pertanyaan (query) dari basis data untuk mendapatkan informasi tertentu, melakukan pembaharuan (updating) data, dan pembuatan laporan (report generation) dari data dalam basis data (Murdick, 1997).
Di dalam pelaksanaan penyusunan basis data dengan komputer SMBD yang digunakan dapat dibuat sendiri bertujuan untuk dapat memanipulasi data dari basis data sehingga diperoleh informasi sesuai dengan yang diinginkan. Gabungan antara basis data dan perangkat lunak SMBD termasuk di dalamnya program aplikasi yang dibuat dan bekerja dalam suatu sistem, disebut sebagai Sistem Basis Data

Konsep Sistem Basis Data (Kompilasi dari Elmasri R, dkk, 1994)

Database Management System (DBMS)
Sistem Manajemen Basis Data (SMBD) adalah kumpulan program. Suatu SMBD merupakan sistem yang digunakan untuk membuat dan mengelola basis data dengan perangkat lunak yang secara umum dapat digunakan untuk melakukan proses pada data dalam hal pendefinisian, penyusunan dan manipulasi basis data.
Database Management System (DBMS) juga merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah basis data yang memelihara integrasi logis antar file, baik langsung maupun tidak langsung. DBMS akan menentukan bagaimana data diorganisasi mulai dari penyimpanan, pengubahan dan pemakaian data kembali serta pengamanan dan pemakaian data secara bersama. Contoh perangkat lunak dari DBMS seperti dBase III, Bortland, Fox Base, Microsoft Access dan lain-lain.
Semua DBMS memiliki suatu pengolah bahasa deskripsi data (data description language processor) yang mengubah kamus data menjadi skema database, sedangkan pemakai menggunakan manipulasi data dan query language.

Tahapan aplikasi (pengguna) mengambil data dari basis data adalah sebagai berikut:
a)Data manipulation language (DML) menentukan DBMS data apa yang diperlukan.
b)DBMS memeriksa skema dan subskema untuk menguji bahwa data ada dalam database dan program aplikasi berhak menggunakannya.
c)DBMS meneruskan permintaan data ke sistem operasi.
d)Data diambil dan dimasukkan dalam area penyimpanan buffer khusus dalam penyimpanan primer.
e)Data ditransfer dalam area input program aplikasi.
f)DBMS mengembalikan pengendalian ke program aplikasi.
g)Program aplikasi menggunakan data

Proses pembentukan basis data memerlukan perangkat seperti:
1.diagram konteks,
2.data flow diagram (DFD),
3.kamus data,
4.flowchart,
5.entity relationship diagram (ERD)
6.normalisasi.

Fungsi diagram konteks adalah memperlihatkan interaksi sistem informasi dengan lingkungan dimana sistem tersebut ditempatkan. Penggambaran ini termasuk DFD yang berinteraksi dengan sistem informasi. DFD ini akan dikembangkan dalam DFD tahapan secara rinci mengenai sistem sebagai jaringan kerja antar fungsi yang berhubungan satu sama lain dan ke arah mana data mengalir serta penyimpanannya.
Kamus data juga berperan dalam perancangan sistem informasi, dimana kamus data akan menjelaskan DFD, mendeskripsikan pakaet data serta menjelaskan spesifikasi nilai dan satuan terhadap data yang mengalir. Flowchart merupakan tahapan pemecahan masalah secara sederhana, terurai, rapi dan jelas dengan menggunakan simbol-simbol yang standar.

Untuk menggambarkan hubungan relasi antar file dapat digunakan ERD, yang digolongkan dalam bentuk relasi satu-satu, satu-banyak dan banyak-banyak. Normalisasi adalah proses pengelompokan data menjadi tabel yang menunjukkan entitas dan relasinya, yang tujuannya untuk memudahkan pengorganisasian data.

DBMS berguna untuk memelihara koleksi data yang dapat dipakai secara bersama, membentuk hubungan antara item data, meminimalkan data yang berlebihan (redundancy), menyediakan cara pencarian data dan pengawasan terhadap penyimpanan data, menyediakan data lengkap untuk pembuatan laporan serta memungkinkan pengembangan aplikasi. DBMS juga bermanfaat bagi organisasi yang menggunakan kumputer sebagai suatu sistem informasi.

Basis data dapat diartikan sebagai kumpulan data tentang suatu benda atau kejadian yang saling berhubungan satu sama lain, sedangkan data merupakan fakta yang mewakili suatu obyek seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan dan sebagainya yang dicatat dan mempunyai arti implisit.

Penggunaan istilah basis data menurut Elmasri R., 1994 dalam Waljianto (2003), lebih dibatasi pada arti implisit yang khusus yaitu :
a.Basis data merupakan penyajian suatu aspek dari dunia nyata (realworld atau miniworld), misalnya basis data perbankan, perpustakaan, pertanahan, perpajakan dan sebagainya.
b.Basis data merupakan kumpulan data dari berbagai sumber yang secara logika mempunyai arti implisit, sehingga data yang terkumpul secara acak dan tanpa mempunyai arti, tidak dapat disebut basis data.
c.Basis data perlu dirancang, dibangun dan data dikumpulkan untuk suatu tujuan. Basis data dapat digunakan oleh beberapa pemakai dan beberapa aplikasi yang sesuai dengan kepentingan pemakai.

Dari batasan tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa basis data mempunyai berbagai sumber data dalam pengumpulan data, bervariasi derajad interaksi kejadian dari dunia nyata, dirancang dan dibangun agar dapat digunakan oleh beberapa pemakai untuk berbagai kepentingan. Suatu hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan data pada basis data adalah dihindarkan adanya data yang rangkap (redundant) (Murdick, 1997).
Pengelolaan basis data dapat dilakukan secara manual ataupun dengan komputer. Basis data berbasis komputer dapat dikelola baik oleh sekumpulan program aplikasi untuk suatu kepentingan atau oleh Sistem Manajemen Basis Data (Database Management System) (Murdick, 1997).

Di dalam pendekatan basis data, sejumlah data disimpan dalam satu tempat dengan definisi data yang tetap sehingga dapat diakses oleh beberapa pemakai dengan berbagai program aplikasi melalui kontrol SMBD, seperti tampak pada gambar. (Waljianto, 2003)

Karaktristik utama yang membedakan antara pemrosesan berkas dan pendekatan basis data dapat dijelaskan sebagai berikut : (Waljianto, 2003)
a.Pendefinisian Data
Definisi data disimpan dalam sistem katalog, yang berisi informasi tentang struktur tiap berkas, tipe dan format penyimpanan tiap item data dan berbagai konstri dari data. Semua informasi yang disimpan dalam sistem katalog ini biasa disebut meta-data.
b.Pemisahan Program dan Data
Seperti telah diutarakan bahwa dalam pendekatan pemrosesan berkas, struktur berkas data menjadi satu dengan program aplikasi, sehingga bila terjadi perubahan struktur data maka program aplikasi juga harus dirubah. Sedangkan SMBD mengakses program aplikasi yang ditulis secara terpisah untuk suatu tujuan tertentu.
c.Penggunaan Data
Basis data pada umumnya digunakan oleh beberapa pemakai untuk kepentingan penggunaan yang berbeda. Data yang diperlukan dapat secara eksplisit tersimpan dalam basis data, ataupun pemakai harus melakukan pemrosesan sendiri untuk memperoleh data atau informasi yang diinginkan.
d.Pemakaian Data Bersama
Basis data dengan SMBD memungkinkan beberapa pemakai mengakses data yang sama pada waktu yang bersamaan pula. Untuk menjamin bahwa data yang diakses tidak terjadi kesalahan maka harus ada kontrol yang terintegrasi terhadap basis data (concurrency control).

Dari uraian yang telah dipaparkan dapat dituliskan beberapa keuntungan pendekatan basis data, yaitu sebagai berikut : (Waljianto, 2003)
a.Pemusatan Kontrol Data
Dengan satu SMBD di bawah kontrol satu orang atau kelompok dapat menjamin terpeliharanya standar kualitas data dan keamanan pembatasan pemakaian. Disamping itu adanya konflik dalam persyaratan pemakaian data dapat dinetralkan, serta integritas data dapat terjaga.
b.Pemakaian Data Bersama
Dengan menggunakan SMBD, informasi yang ada dalam basis data dapat digunakan secara efektif oleh beberapa pemakai dengan kontrol data yang terjaga. Fasilitas penanganan data dalam SMBD juga memberi kemungkinan untuk mengembangkan program aplikasi baru (dengan menggunakan basis data yang ada).
c.Data yang Bebas
Program aplikasi terpisah atau bebas dengan bentuk secara fisik data disimpan dalam komputer.
d.Kemudahan dalam pembuatan program aplikasi baru
Program aplikasi yang baru dan pencarian basis data yang tunggal akan lebih mudah jika menggunakan fasilitas yang ada pada SMBD.
e.Pemakaian secara langsung
Sistem basis data saat ini biasanya menyediakan jendela pemakai, sehingga pemakai dapat melakukan analisis data yang rumit sekalipun. Pada saat yang sama sistem basis data berperan sebagai pengontrol penggunaan dan operasi basis data untuk menjaga konsistensi dan adanya perlindungan pada integritas basis data
f.Data yang berlebihan dapat dikontrol
Dalam pemrosesan berkas untuk tiap aplikasi menggunakan berkas-berkas yang terpisah, sehingga tidak jarang akan menghasilkan data yang rangkap (redundant), hal demikian menyebabkan pemborosan biaya. SMBD dapat digunakan untuk menurunkan tingkat redudancy dan pengelolaan proses pembaharuan data.
g.Pandangan pemakai (user views)
SMBD dapat memberikan kemudahan untuk membuat dan memelihara jendela pemakai (user interface) sesuai dengan pandangan pemakai terhadap basis data.

SMBD tidak selalu memberikan keuntungan untuk semua aplikasi pendekatan basis data. Beberapa kelemahannya adalah sebagai berikut :
a.Biaya
Biaya yang digunakan untuk mendapatkan perangkat lunak dan perangkat keras yang tepat sangatlah mahal, termasuk biaya untuk pemeliharaannya (maintenance cost) dan penyediaan sumberdaya manusia untuk mengelola basis data tersebut.
b.Sangat kompleks
Sistem basis data lebih kompleks dibanding proses berkas. Menurut teori semakin kompleks suatu sistem akan semakin mudah terjadi kesalahan dan semakin sulit dalam pemeliharaan data.
c.Risiko data yang terpusat
Menurut teori data yang terpusat dalam satu lokasi dengan selalu menjaga adanya data rangkap yang kecil, akan terjadi risiko kehilangan data selama proses aplikasi.


Pendekatan Basis Data

The Hierarichal Database
File-file di hubungkan seperti adanya order, persoalan yang ditimbulkan adalah dengan dilakukannya penghapusan data di salah satu parent, maka subordinat akan terhapus juga, kaku, tidak ada hubungan antar anak file
The Relational Database
Merupakan hubungan yang paling sering , karena lebih mudah dalam berhubungan, mudah dihapus tanpa takut akan menghapus file yang lain pula, mudah pula untuk pemasukan data, atau update dan memodifikasi

Flat database
adalah sistem database dimana satu file database tidak dapat berhubungan secara otomatis dengan file database lainnya, sehingga perubahan pada satu file database tidak dapat secara otomatis mengubah isi pada file database lain.

The Relational Database
adalah sistem database dimana satu file dapat berhubungan secara otomatis dengan file database lain, sehingga perubahan pada satu file database secara otomatis dapat mengubah isi pada file database lainnya


Type Database
Individual: Integritas di gunakan pada satu orang
Company: Lebih umum mengoperasionalkannya atau lebih dilihat kerjasam antar file di organisasinya

Distributed: Seperti data company, tapi dimasukan data geografidan akses sudah dengan database server
Proprietary: Informasi penggunaan atau data bank yang dapat diperoleh dengan kriteria yang lebih luas

STRUKTUR DATA

File, Record, Field
Sebuah File merupakan kumpulan dari record record yang mempunyai field yang saling keterhubungan/relasional contohnya file tentang Identitas pasien.
File Pasien.DBF
No_MR Nama Pasien Alamat Tgl_Kunjungan1 Tgl_Kunjungan
02 – 11 – 99 RR.Prameswari Jl. Sukun 12-03-99 12-03-99

No_MR Nama Pasien Alamat Tgl_Kunjungan1 Tgl_Kunjungan
Field Field Field Field Field

Jika hanya No_MR seorang pasien yang berisi 02-11-99 atau hanya satu bagian lain dari seorang pasien tanpa bagian lain maka disebut Field

Atribut dan Entity

Atribut adalah nama panggilan dari satu field seorang pasien pada sebuah record dalam suatu file database

Entity adalah nilai atau isi dari suatu field yang mempunyai atribut yang sama
No_MR Nama Pasien Alamat Tgl_Kunjungan1 Tgl_Kunjungan
02 – 11 – 99 /Entity RR.Prameswari/Entity Jl. Sukun/Entity 12-03-99/Entity 12-03-99/Entity
Jadi Entity dari No_MR adalah 02 – 11 – 99 dan seterusnya
Jadi Entity dari Nama Pasien adalah RR. Prameswari dan seterusnya
Dan Atribut dari 02 – 11 – 99 adalah No_MR

Sistem Manajemen Basis Data Rumah Sakit
Untuk mengelola Data Base sebuah rumah sakit sebaiknya kita harus mengetahui jenis data yang ada di rumah sakit secara garis besar untuk bagian-bagian tertentu akan mengelola data dengan jenis tertentu seperti untuk rumah sakit mempunyai 2 jenis data yaitu data medis dan data umum. Data umum terbagi atas data keuangan, data administrasi dan data manajemen. Data medis terdiri dari data tentang tindakan pengobatan, data pelayanan kesehatan, data laboratorium dan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan pasien.
Hingga untuk mengetahui DBMS dari rumah sakit maka harus berpangkal dari sebuah data base inti atau disebut Core Data Base.

Contoh ;
Untuk Data Base Rekam Medis maka Corenya adalah Data Base File Identitas Pasien yang harus berisi sekurang-kurangnya :
1.Nama pasien
2.Nomor Rekam Medis
3.Tanggal Kunjungan Pertama
4.Tanggal Kunjungan
5.Alamat
6.Nama Keluarga
Dst
Sebuah nomor rekam medis harus unik karena akan di pakai hanya oleh seorang pasien selama hidupnya dirumah sakit tersebut hingga dapat menghindari (eliminasi) terjadinya kerangkapan data (Data Redudancy). Hal ini merupakan bagian dari DBMS.


Sistem Manajemen Basis Data Rumah Sakit
Hospital Data Base Management System
Untuk mengelola Data Base sebuah rumah sakit sebaiknya kita harus mengetahui jenis data yang ada di rumah sakit secara garis besar dan untuk bagian-bagian tertentu akan mengelola data dengan jenis tertentu seperti untuk rumah sakit yang mempunyai 2 jenis data yaitu data medis dan data umum. Data umum(nonmedis) terdiri atas data keuangan, data administrasi dan data manajemen. Data medis terdiri dari data tentang tindakan pengobatan, data pelayanan kesehatan, data laboratorium dan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan pasien.
Hingga untuk mengetahui DBMS dari rumah sakit maka harus berpangkal dari sebuah data base inti atau disebut Core Data Base. Contoh ; File data base identitas pasien.

SURVEILANS

DEFINISI SURVEILANS :

  • Menurut WHO : Suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis, terus menerus dan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan.
  • Menurut CDC (Center of Disease Control) : pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada pihak-pihak yang perlu mengetahuinya

TUJUAN :
  1. Memprediksi dan mendeteksi dini epidemi (outbreak)
  2. Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program pencegahan dan pengendalian penyakit,
  3. Memasok informasi utk penentuan prioritas, pengambilan kebijakan, perencanaan, implementasi dan alokasi sumber daya kesehatan.
  4. Monitoring kecenderungan (Tren) penyakit endemis dan mengestimasi dampak penyakit di masa mendatang.
  5. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut.

LINGKUP :
  1. Epidemic
  2. Penyakit infeksi (Penyakit Menular)
  3. Penyakit Tidak Menular
  4. Health Services Problem.
  5. Population Problem.
  6. Environment Problem

SUMBER DATA (WHO) :
  1. Data Mortalitas (kematian)
  2. Data Morbiditas (Kesakitan)
  3. Data epidemik
  4. Laporan penggunaan laboratorium (hasil test lab.)
  5. Laporan investigasi kasus secara individual
  6. Laporan investigasi epidemik (penyelidikan wabah)
  7. Survei khusus (register penyakit, survei serologis)
  8. Informasi binatang sebagai reservoir dan vektor.
  9. Data demografik
  10. Data lingkungan.

MANFAAT & KEGUNAAN :
  1. Mempelajari pola kejadian penyakit dan penyakit potensial pada populasi sehingga dapat efektif dalam investigasi, controling dan pencegahan penyakit di populasi.
  2. Mempelajari riwayat alamiah penyakit, spektrum klinik dan epidemiologi penyakit (siapa, kapan dan dimana terjadinya, serta keterpaparan faktor resiko)
  3. Menyediakan basis data yang dapat digunakan untuk memperkirakan tindakan pencegahan dan kontrol dalam pengembangan dan pelaksanaan.

KEGIATAN RUTIN UNIT SURVEILANS :
a)  Melaksanakan kegiatan surveilans
  • Pengumpulan data
  • Pengolahan dan penyajian
  • Analisis dan interpretasi
  • Penyebarluasan informasi dan rekomendasi
b)  Penanggulangan KLB :
  • SKD KLB
  • Penyelidikan dan penanggulangan KLB
c)  Pengembangan sistem surveilans termasuk
      pengembangan jaringan informasi
d)  Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral

JENIS SURVEILANS :

a)  Surveilans aktif
  • Pengamatan kasus dilakukan secara langsung ke lapangan.
  • Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih baik
  • Dibutuhkannya dana dan tenaga khusus.
b)  Surveilans pasif
  • Pengamatan kasus dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui laporan.
  • Hasil yang diperoleh kurang lengkap.

ALASAN DILAKSANAKAN SURVEILANS :
Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari kondisi :
  1. Beban penyakit (burden of disease) tinggi, sehingga merupakan masalah penting kesehatan masyarakat.
  2. Terdapat tindakan kesehatan masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
  3. Data relevan mudah diperoleh
  4. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan (pertimbangan efisien).

Rabu, 01 Agustus 2007

SCREENING

SCREENING
Screening atau penyaringan kasus adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.

TUJUAN SCREENING :
  1. Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap orang- orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang mempunyai resiko tinggi terkena penyakit (Population at risk).
  2. Dengan ditemukan penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan secara tuntas sehingga tidak membahayakan dirinya atau lingkungan dan tidak menjadi sumber penularan penyakit.

SASARAN
Sasaran penyaringan adalah penyakit kronis seperti :
  • Infeksi Bakteri (Lepra, TBC dll.)
  • Infeksi Virus (Hepatitis)
  • Penyakit Non-Infeksi : (Hipertensi, Diabetes mellitus, Jantung Koroner, Ca Serviks, Ca Prostat, Glaukoma)
  • HIV-AIDS

PROSES PENYARINGAN  
Proses pelaksanaan sceening adalah :
  1. Tahap 1 : melalukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit.
  •  Apabila hasil negatif, dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
  • Apabila hasil positif dilakukan pemeriksaan tahap 2
    2. Tahap 2 : pemeriksaan diagnostik
  • Hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan.
  • Hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit (dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik).
SENSITIVITAS
Sensitivitas (sensitivity) : kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil tes positif dan benar sakit.
Sensitivitas = a/a+c

SPESIFISITAS
Spesifisitas (specificity) : kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil negatif dan benar tidak sakit.
Spesivisitas = d/b+d

POSITIVE PREDICTIVE VALUE (PPV)
Persentase pasien yang menderita sakit dengan hasil test Positive.
PPV = a/a+b

NEGATIVE PREDICTIVE VALUE (NPV)
Persentase pasien yang tidak menderita sakit dengan hasil test negative.
NPV = d/c+d

Selasa, 31 Juli 2007

silabus

SILABUS


Mata Kuliah : Pengantar Epidemiologi
Kode Mata Kuliah : AA2219

A. Deskripsi Mata Kuliah
Dibahas tentang pengertian, ruang lingkup, sejarah perkembangan epidemiologi, riwayat alamiah perjalanan penyakit dan tingkat pencegahan penyakit, frekuensi atau besarnya masalah kesehatan, distribusi atau penyebaran masalah kesehatan, determinan penyakit atau masalah kesehatan, sumber data dan penemuan masalah kesehatan, desain penelitian epidemiologi deskriptif dan analitik serta mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan praktikum epidemiologi

B. Tujuan Mata Kuliah
Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan tentang pengertian, ruang lingkup, sejarah perkembangan epidemiologi.
2. Menjelaskan tentang riwayat alamiah dan tingkat pencegahan penyakit.
3. Menjelaskan frekuensi atau besarnya masalah kesehatan.
4. Menjelaskan tentang distribusi atau penyebaran penyakit atau masalah kesehatan.
5. Menjelaskan determinan penyakit atau masalah kesehatan.
6. Menjelaskan sumber data dan penemuan masalah kesehatan.
7. Menjelaskan tentang desain penelitian epidemiologi deskriptif dan analitik.
8. Melaksanakan praktikum epidemiologi

C. Pokok Materi
1. Pengertian, ruang lingkup, sejarah perkembangan epidemiologi.
2. Riwayat alamiah dan tingkat pencegahan penyakit
3. Frekuensi atau besarnya masalah kesehatan
4. Distribusi atau penyebaran penyakit atau masalah kesehatan
5. Determinan penyakit atau masalah kesehatan.
6. Sumber data dan penemuan masalah kesehatan
7. Desain penelitian epidemiologi deskriptif dan analitik.
8. Praktikum epidemiologi

Mata Kuliah : Epidemiologi Penyakit Menular
Kode Mata Kuliah : AA2228

A. Deskripsi Mata Kuliah
Dibahas prinsip-prinsip epidemiologi pada penyakit seperti riwayat alamiah penyakit menular, komponen proses terjadinya penyakit menular, proses penularan penyakit dan manifestasi klinis penyakit menular secara umum. Pendekatan epidemiologi penyakit yang ditularkan melalui tanah, melalui makanan, minuman dan melalui oral fecal, penyakit yang ditularkan melalui binatang (bersumber pada binatang), ditularkan melalui vektor, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.

B. Tujuan Mata Kuliah
Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan tentang prinsip-prinsip epidemiologi pada penyakit seperti riwayat alamiah penyakit menular, komponen proses terjadinya penyakit menular, proses penularan penyakit dan manifestasi klinis penyakit menular secara umum
2. Menjelaskan tentang pendekatan epidemiologi penyakit yang ditularkan tanah.
3. Menjelaskan tentang penyakit yang ditularkan melalui makanan, minuman dan melalui oral fecal.
4. Menjelaskan tentang penyakit yang ditularkan melalui binatang.
5. Menjelaskan tentang penyakit yang ditularkan melalui vektor.
6. Menjelaskan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
7. Menjelaskan tentang penyakit yang ditularkan melalui saluran pernafasan.
8. Menjelaskan tentang penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.

C. Pokok Materi
1. Prinsip-prinsip epidemiologi pada penyakit seperti riwayat alamiah penyakit menular, komponen proses terjadinya penyakit menular, proses penularan penyakit dan manifestasi klinis penyakit menular secara umum
2. Pendekatan epidemiologi penyakit yang ditularkan tanah.
3. Penyakit yang ditularkan melalui makanan, minuman dan melalui oral fecal.
4. Penyakit yang ditularkan melalui binatang.
5. Penyakit yang ditularkan melalui vektor.
6. Penyaikt yang dapat dicegah dengan imunisasi
7. Penyakit yang ditularkan melalui saluran pernafasan.
8. Menjelaskan tentang penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual

Mata Kuliah : Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
Kode Mata Kuliah : AA3319

A. Deskripsi Mata Kuliah
Dibahas tentang pendekatan epidemiologi untuk penanggulangan penyakit tidak menular, masalah epidemiologi penyakit tidak menular, karakteristik epidemiologi penyakit tidak menular, riwayat alamiah perjalanan penyakit , perkembangan konsep penyebab penyakit, model kausal penyakit tidak menular, epidemiologi landasan strategi pencegahan dan promosi kesehatan, berbagai penyakit tidak menular yang ditemukan di indonesia (transisi epidemiologi), seperti epidemiologi penyakit kanker, epidemiologi Penyakit Jantung Koroner (PJK), Penyakit stroke, Diabetes Melitus, Epidemiologi Kesehatan lansia, GAKI, Epidemiologi Cedera dan kecelakaan, Asma Bronkhiale dll,

B. Tujuan Mata Kuliah
Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan tentang pendekatan epidemiologi penanggulangan penyakit tidak menular.
2. Menjelaskan tentang masalah epidemiologi penyakit tidak menular.
3. Menjelaskan karakteristik epidemiologi penyakit tidak menular
4. Menjelaskan riwayat alamiah perjalanan penyakit
5. Menjelaskan perkembangan konsep penyebab penyakit dan model kausal penyakit tidak menular
6. Menjelaskan epidemiologi landasan strategi pencegahan dan promosi kesehatan
7. Menjelaskan tentang berbagai penyakit tidak menular yang ditemukan di Indonesia (transisi epidemiologi)

C. Pokok Materi
1. Pendekatan epidemiologi penanggulangan penyakit tidak menular.
2. Masalah epidemiologi penyakit tidak menular
3. Karakteristik epidemiologi penyakit tidak menular
4. Riwayat alamiah perjalanan penyakit
5. Perkembangan konsep penyebab penyakit dan model kausal penyakit tidak menular
6. Epidemiologi landasan strategi pencegahan dan promosi kesehatan
7. Berbagai penyakit tidak menular yang ditemukan di Indonesia (transisi epidemiologi)

Mata Kuliah : Surveilens Epidemiologi
Kode Mata Kuliah : AA3324

A. Deskripsi Mata Kuliah
Dibahas tentang pengertian surveilans epidemiologi, komponen sistem surveilans (membahas tentang kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, interpretasi dan diseminasi dari data-data kesehatan sehingga dihasilkan informasi, kemudian digunakan untuk merencanakan, memantau dan menilai program kesehatan.). Evaluasi sistem surveilans, investigasi wabah dan KLB, pelaksanaan skrining suatu penyakit, dibahas pula mengenai Sistem Kewaspadaan Dini KLB (SKD-KLB) dan kegiatan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Serta mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan praktikum surveilans epidemiologi

B. Tujuan Mata Kuliah
Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan tentang pengertian surveilans epidemiologi.
2. Menjelaskan tentang komponen sistem surveilans (kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, interpretasi dan diseminasi informasi)
3. Menjelaskan tentang Evaluasi sistem surveilans.
4. Menjelaskan Investigasi Wabah. Dan KLB
5. Menjelaskan pelaksanaan skrining penyakit
6. Menjelaskan SKD-KLB
7. Membuat Grafik PWS

C. Pokok Materi
1. Pengertian surveilans epidemiologi
2. Komponen sistem surveilans (kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, interpretasi dan diseminasi informasi)
3. Evaluasi sistem surveilans.
4. Investigasi Wabah. Dan KLB
5. Skrining penyakit
6. SKD-KLB
7. Grafik PWS

NOLAN FERDINAND SHAMID






HE IS MY SON, HER NAME IS NOLAN FERDINAND SHAMID.

Senin, 30 Juli 2007

MATA KULIAH YG DIAMPU

MATA KULIAH YANG DIAMPU :

1. PENGANTAR EPIDEMIOLOGI
2. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR
3. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR
4. SURVEILANS EPIDEMIOLOGI